Skip to main content

Gen Z, Nabung itu penting nggak sih?

 


Hallo sobat adventura, bertemu lagi dengan mimin yang udah 4 tahun menghilang dari blog karena berbagai kesibukan di real life nih. Nah ane kan udah hampir 5 tahun ini bekerja sebagai seorang ASN yaitu GURU. Namun di beberapa kesempatan mimin diberikan amanah sebagai pengelola keuangan dengan pengelolaan aset terbesar 24 M dan financial consultan untuk itu mimin mau berbagi sedikit cerita tentang bagaimana sih mengelola keuangan itu?

Nah kita awali dulu dengan sebuah pertanyaan. Menabung itu penting nggak sih? Terutama buat para GEN Z atau kaum - kaum milenial? Kenapa mimin bertanya begitu karena mimin terlahir di era milenial nih, dimana perkembangan IT sudah begitu maju dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

Kalau menurut mimin sih, nabung itu penting ya. Ada beberapa analisa mimin mengenai pengelolaan keuangan para baby boomer sampai dengan Gen Z yang mimin amati dari sekitar lingkungan mimin tinggal. Biasanya nih, setelah punya penghasilan apalagi yang bekerja di pemerintahan atau swasta yang udah hits gitu akan merasa punya kebanggaan dan otomatis gensinya tinggi banget selangit. Apalagi ketika dulu mimin masih berstatus CPNS gampang banget lo mimin ditawari untuk hutang beli motor, mobil dan sebagainya dengan syarat menggadaikan SK. Mimin dulu baru awal - awal masuk udah ditawari 4 bank untuk hutang dan 2 dealer mobil, wah kalau tidak menggengam erat SK pasti sudah jatuh terjebur dan terjerat semakin dalam pada liang hutang.

Apakah hutang itu salah? Jawabannya enggak kok, selama butuh bukan ingin. Misalnya gimana nih? Kita sudah berumah tangga, nah daripada ribut mulu di rumah orangtua atau mertua karena nggak nyaman kita hutang KPR untuk membeli rumah. Inget ya karena butuh bukan ingin.

Kembali ketopik utama tentang nabung, ada beberapa tabungan yang bisa kita mulai dari semenjak kita punya KTP. Tak urutin dari yang paling gampang ke yang sulit dari yang pernah tak lalui.

  • Tabungan Konvensional di Bank
    • Nah Tabungan ini tuh kayak kita nabung biasa aja ke bank, cuma biasanya karena kita males dan nggak niat jadi nggak kekumpul - kumpul uangnya. Kita bisa mulai dengan nabung setiap hari di rumah dulu dari nominal terkecil yang kita mampu. Untuk remindernya kita bisa pakai aplikasi pelacak tujuan kayak gini. Jadi tiap kita nabung kita centang deh itu kita nabung. Nanti kalau sudah banyak kita bawa ke bank.

      Nah kalau aku biasanya membedakan rekeningnya, antara rekening tabungan dengan rekening yang biasa tak pakai harian jadi akan keliatan nanti jumlah tabunganku udah berapa.
Aplikasi Pelacak Tujuan dari playstore

Misalnya aja nih kita rutin banget nabung 2000/hari itu nominal terkecil menurutku ya. Nah coba kita hitung sudah berapa yang kita dapat dalam tempo yang lama. Jika 2000 kita kalikan 365 hari dalam setahun maka hasilnya 730.000. Masih terbilang kecil, bagaimana kalau kita rutin selama 10 tahun, maka hasilnya sudah 7.300.000. Itu baru nominal 2000 kalau rutin. Biasain aja dulu dari nominal terkecil yang kita mampu, penting rutin.
  • Tabungan Berjangka Pendek
    • Apasih maksudnya tabungan berjangka pendek ini? Tabungan ini adalah tabungan yang memiliki jangka waktu sekitar 1 tahun, biasanya di bank ada kok tabungan khusus hari raya, atau di koperasi. Nah mimin ikut tabungan itu. Jadi setiap hari raya mimin udah nggak bingung lagi buat cari dana tambahannya, dan pastinya ada bunganya dong.
    • Kalau di koperasi kan ada simwa dan simpanan pokok, nanti ketika akhir tahun juga kita dapat return dari hasil simpanan pokok kita + shu. Jadi kan lumayan tuh.
  • Tabungan Reksadana
    • Nah kalau tabungan reksadana ini mimin dulu pilihnya yang reksadana obligasi dan reksadana saham, karena setelah tak pertimbangkan ternyata returnya lebih besar reksadana obligasi dan saham daripada pasar uang. Belum lagi kalau kita taruh uang kita direksadana obligasi yang menghasilkan deviden.
    • Nah kalau reksadana saham pilih aja yang reksadana index, kenapa sih? Soalnya ketika kita lihat IHSG itu selalu naik walaupu terjadi market crash
Gambaran IHSG sampai tahun 2024
  • Tabungan Saham
    • Tabungan saham ini adalah tabungan yang memili resiko paling tinggi nurutku karena aku pernah mengalami minus sampai 25% hanya saja belum tak cutloss dan akhirnya tinggal minus 4%. Contoh sederhana dari hasil risetku, misal aku nabung perbulan 150.000 x 12 bulan hasilnya adalah 1.800.000. Setelah aku menabung 3 tahun dengan deviden yang tak terima dan juga capital gain. Kurang lebih modalnya adalah 5.400.000 dengan return 1.300.000 jadi prosentase profit dari riset yang tak hasilkan adalah sekitar 24% dan itu dari hasil kesabaran dan analisa yang mendalam mengenai PBV, DER, SEASONALITY, CAGR aku biasanya meriset itu dulu sebelum masuk ke perusahaan - perusahaan tertentu.
  • Tabungan Properti
    • Terakhir adalah properti. Menurutku nabung properti itu penting karena harga tanah semakin naik, tapi akan menjadi lebih kompleks jika kita membeli rumah karena akan ada depresiasi di dalamnya berupa renovasi rumah. Depresiasi itu adalah penurunan nilai dari suatu aset karena kondisi tertentu/penggunaan, misalnya kondisi rumah yang rusak akhirnya kita harus renovasi untuk mempertahankan harga jual aset. Emang lebih enak beli tanah aja di tempat yang oke, harganya pasti naik kok.
Jumlah nominal yang tak tuliskan semua diatas adalah simulasi ya teman - teman jadi untuk sebenar - benarnya tidak sekecil itu juga, karena kan tujuan menabung adalah mencapai goal plan kita nih. Kalau nominal tabungannya terlalu kecil maka target yang kita capai akan semakin lama.

Nah dari semua kisahku nabung ini, mungki aku bakalan lebih tertarik untuk bahas saham kedepannya karena pembahasannya yang lebih banyak... See you next time ya sobat adventura

Comments

Popular posts from this blog

Suka Duka plus kekocakan jadi PNS baru.

Hai sobat adventura. Hari ini ditengah pandemik corona yang terjadi di seluruh muka bumi, yang mengharuskan gue untuk stay at home. Yaps. STAY AT HOME alias di rumah aja dan kumpul bareng sama keluarga. So, pastinya akan menambah berat badan gue. Wkwkwkwkwk... lupain soal berat badan dan lanjut ke PNS. PNS, yaps... kepanjangannya Pegawai Negeri Sipil. PNS itu sebuah pekerjaaan yang sangat di inginkan berjuta - juta orang di Indonesia untuk meningkatkan taraf hidupnya. Nah, kenapa gue bisa bilang begitu. Dari hasil pendaftaran yang dulu pernah gue lakuin saat mau daftar jadi PNS, melalui web  https://sscn.bkn.go.id/  disitu aja udah keliatan berapa banyak jumlah pelamar dari seluruh Indonesia yang mau ngelamar buat jadi PNS. Kasus khusus buat gue, pesaing gue dikit karena waktu itu, prodi gue merupakan prodi baru, yang baru aja release tahun 2012 dan menelorkan wisuda pertama prodi gue di tahun 2016 dengan akreditasi B, dan baru - baru aja ini akreditasi udah naik jadi A. Wajar aja

Awas, Deviden Trap!

  Halo sobat adventura, sebelumnya ane mau mengucapkan Selamat Hari Raya Paskah dan juga Lebaran untuk teman - teman yang merayakan. Hari ini ane mau mengangkat isue tentang deviden trap nih. Apa sih itu deviden trap? Bagi kita yang masih sangat awam di dunia saham kadang terjebak dengan deviden trap. Awalnya berharap mendapatkan deviden atau bagi hasil laba dari suatu perusahaan yang sering digaung - gaungkan oleh influencer, justru kita terjebak oleh deviden trap. Ane juga mengalami itu, baru saja kemarin di saham ARNA. Setelah exit date atau tanggal perdagangan bursa tidak memuat deviden alias saham itu sudah boleh dijual ketika hari sebelumnya kita sudah memegang saham tersebut maka data kita sudah terekam untuk kepemilikan suatu deviden. Nah justru ditanggal ex date ini begitu banyak yang menjual saham, sehingga bagaikan menangkap pisau jatuh, saham ARNA meluncur turun sekitar 6% pada hari ex date pembagian deviden, dan akhirnya terjebak pada deviden trap. Alih - alih mendapatkan

Capital Gain dan Deviden

  Halo balik lagi bersama ane nih, sobat adventura. Ane mau menceritakan sedikit kisah ane tentang Capital Gain dan Deviden di saham selama 2 tahun lebih ini ane berkutat di dunia saham. Ane belajar saham ini tidak dengan uang yang besar teman - teman tapi hanya top up per 2 bulan sekali sebesar 300 ribu atau kalau ada uang tambahan selalu top up 150 ribu perbulan. Nah ada beberapa orang yang mengatakan kalau uangnya masih sedikit, lebih baik untuk beli buku dulu atau belajar dulu. Justru kita bisa belajar sambil menerapkan di instrumen investasi yang kita miliki, karena dengan uang yang semakin besar untuk memulai bisa jadi ada 2 kemungkinan profit yang semakin besar atau kerugian yang semakin besar.  Awal belajar dengan biaya 150.000 perbulan yang saya top up secara rutin itu, saya pernah mengalami kerugian sebesar 500.000 ketika cutloss di saham PGAS dan BBTN karena saat itu sinarmas berkerjasama dengan stockbit ditengah jalan mereka tidak bekerja sama lagi, dan saat itu aplikasi si